HUKUMAN MATII ITU HARUS ADA

Pengulangan Tindakan Kejahatan seperti inilah yang saya semakin yakin pentingnya negara menghadirkan hukuman yang melahirkan pembelajaran kepada semua warga negara.
Pembelajaran, bagaimana semua warga negara harus berhati-hati dengan kehormatan dan hak hidup warga negara lain.
Jenis kejahatan ini, selain telah merampas hak hidup korban, melukai rasa dan kebahagiaan keluarga korban sepanjang hidupnya, juga mencederai rasa kemanusiaan serta rasa aman warga negara lain yang mengetahui adanya kejahatan ini di masyarakat.
Lalu alasan apa, sehingga negara masih menganggap penting untuk mempertahankan hak hidup pelaku kejahatan ini.
Hukun harus dihadirkan negara untuk melindungi orang-orang yang patuh terhadap hukum itu sendiri, bukan melindungi tak terbatas senua pelaku kejahatan.
Hukum harus memiliki baras toleransi yang tegas.
Laksanakan hukuman mati, bagi pelaku !
Mari jaga baik-baik putra-putri kita dari pengulangan kejahatan yang sama yang terjadi, karena negara belum mampu menghadirkan ketakutan bagi pelaku kejahatan yang amat bejad ini.
Selamatkan anak negeri dari manusia-manusia bejad yang hidupnya kurang bermanfaat bagi sesama.

Mampukah Kita Mengapresiasi Mereka dengan Lebih Serius Lagi?

L

http://m.kompasiana.com/adefathurahman/mampukah-kita-mengapresiasi-mereka-dengan-lebih-serius-lagi_560be7187fafbda40d3449cdatar belakang serta urgensitas penanganan tawuran pelajar adalah realitas sosial yang terbentuk dari sebuah pelaksanaan sistem yang lemah pengawasan.dan buntu inovasi.
Banyak sudah perbincangan yang berkembang di masyarakat yang menyimpulkan adanya indikasi keterlibatan orang dewasa (baca, pihak ketiga) pada persoalan ini.
Tentu saja, pihak ketiga yang dimaksud adalah kelompok yang diuntungkan secara sosiologis, psikologis, bahkan mater atas langgeng dan lestarinya salah satu bentuk perilaku pelajar tersebut (baca tawuran).
Beberapa tayangan promosi kelompok pelajar pelaku tawuran menyertakan jargon-jargon perlawanan terhadap sistem kemasyarakan dan ketat pemerintahan kita yang dianggap telah memarjinalkan sendi-sendi kebutuhan hidup mereka. (Silahkan, simak promosi kelompok mereka di youtube).
Secara kebetulan, saya prnah mendapatkannya pada produk tugas pelajaran Tekinfokom di SMANSA Kota Sukabumi pada tahun 2012 yang pada saat itu dipegang Saudara Muh Khudri Malik, S.Pd. berkenaan dengan kelompok BZAD.
Tentu saja, indikasi ini tidak lantas menyurutkan ikhtiar kita menyelamatkan mereka semua dengan mengasah kemampuan kita untuk berkompetisi dengan pihak ketiga yang dimaksud diatas.
Kemampuan melahirkan kegiatan-kegiatan inovatif- kreatif yang mampu menstilmulan motivasi para pelajar pelaku tawuran untuk beralih pola kegiatannya ke program yang kita ciptakan. Hal mendasar, sesuai dengan Piramida Maslow pada usia mereka adalah kebutuhan afiliasi diri atau kebutuhan mempertontonkna eksistensi diri mereka pada khalayak. Maka, apresiasi dari kitalah yang harus mulai ditingkatkan, bahkan mungkin dengan berbagai hadiah-hadiah atas kompetisi yang berhubungan dengan skill unik mereka di bidang vokasi.

Salah satu hal yang urgen untuk dilakukan dalam penanganan dan antisipasi tawuran pelajar adalah langkah peng-APBD-an.
Selanjutnya pengawalan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program ini harus diperjetat.
Mengingat Pleno RAPBD tahun anggaran ini yang katanya sudah berakhir, maka Kepala Pemerintahan Kota, melalui Perwalnya atau aturan tambahan lainnya harus mampu mengalokasikan dana dari program sejenis yang sudah disyahkan kepada kegiatan yang dimaksud diatas.

Komisi III DPRD dan semua elemen Panca Mitra Pendidikan Kota harus pula giat memantau pergerakan dan kegiatan pelajar disemua gala aktifitas publik dan dunia maya.
Dana CSR BUMD, Perbankan dan Perusahaan Swasta lain harus teralokasi pada program penanganan dan antisipasi tawuran pelajar dan bentuk penyimpangan perilaku pelajar  (kenakalan remaja).
Refferensi :
Medan Theory dari Lewin.
B = f (P + E)
Perilaku (behavior)  merupakan perpaduan  fungsi dari kepribadian (personality) dengan Lingkungan (Environtment) seseorang.
Kepribadian merupakan produk dari interaksi (sosialisasi) seseorang di keluarga, sekolah dan masyarakat.
Lingkungan terbentuk secara sistemik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Simpulannya, maka sekolah memberikan kontribusi 2/ 6 atau 33 % terhadap pembentukan perilaku seseorang bersejajaran (linier) dengan keluarga dan masyarakat.

Mari Jadikan siswa/i kita Pencinta Matematika

Matematika dalam Khazanah Ilmu Pengetahuan, menurut beberapa filosof berkedudukan sebagai bagian dari Human Science, seperti halnya Bahasa.
Pada fungsinya di lalangan, ternyata untuk membuktikan secara empiris, baik pada kajian Ilmu Alam, maupun Ilmu sosial, nalar berpikir ilmiah sangat bergantung pada matematika.
Pada realitas seperti itulah, jika kemudian matematika sangat tepat disebut sebagai Ratu Ilmu Pengetahuan.
Maka, tidak boleh ada siswa/i kita yang masih menganggap matematika sebagai "momok", melainkan mata pelajaran yang diperlukan semua jurusan di Sekolah Menengah Atas khususnya.
Sangat disayangkan, ketika matematika tidak disenangi dan menjadi mata pelajaran yang membosankan, karena dengan matematika itulah logika dan verifijasi ilmiah siswa  kita mendekati ke akurasian pada saat mereka mempraktekan penelitia ilmiahnya pada saat mereka kuliah atau pada pengabdian masyarakatnya pasca luliah nanti.

http://p4tkmatematika.org/2012/04/kedudukan-matematika-dalam-ilmu-pengetahuan/

Untuk repetasi oara guru yang suka meneliti, bisa dilihat juga link keren dibawah ini :

http://www.en.globalstatistik.com/pengertian-dan-perbedaan-statistik-parametrik-dan-non-parametrik/

Keberuntungan Memilih Jurusan Pendidikan Geografi

Jika sebagian mahasiswa lain, ketika memilih Jurusan Pendidikan Geografi, dikarenakan ketertarikan mereka dengan Mata Pelajaran Geografi, maka saya melakukan pilihan itu hanya karena ingin mendapatkan kesempatan mengajar di dua jurusan SMA, yaitu IPA dan IPS saat itu.
Beruntung, jika kemudian ternyata kami meendapatkan pembekalan mata kuliah yang berkarakteriatik rumpun selain IPS, yakni IPA dan Teknik (vokasi). Seperti diketahui bahwa ada kajian lain, selain masalah penduduk, desa-kota, industri, sumber daya alam yang merupakan kajian Geografi Sosial, yakni  : Lapisan Kulit Bumi da. Relief Permukaannya, Cuaca dan Iklim, Perairan Darat dan Laut serta Kajian Flora dan Fauna pada Geografi Fisik ; Kajian Penginderaan Jarak Jauh (Remote Sensing), Pemetaan serta Sistem Informasi Geografi pada Geografi Teknik.
Terlepas dari perbedaan motivasi tentang  pemilihan jurusan diatas, pada kenyataannya kehadiran kani di Jurusan Pendidikan Geografi pada beberapa IKIP Negeri dan suasta (yang sebagian besar saat ini berubah jadi Universitas), secara kebetulan, sebagian besar dari kami merasa sangat beruntung, karena merasa indah pada akhirnya.
Keterlibatan kami di tiga Cabang Geografi itu (Geografi Sosial, Geografi Fisik dan Teknik) plus pembekalan awal Mata Kulah Filsafat Ilmu menjadikan kami merasa lebih bijak dalam mendudukan setiap cabang lmu pengetahuan dikemudian hari, khususnya aetelah menjadi guru.
Arif dan bijak menempatkan perbedaan setiap cabang ilmu dengan cara pandang diferensiasi, bukan dengan cara pandang stratifikasi yang bernuansa hirarkis.
Arif dan bijak mengarahkan bakat dan kemampuan siswa dalam hubungannya dengan kelanjutan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Arif dan bijak pada kekurang tepatan kebijakan pemerintah dalam menentukan skala prioritas pengadaan berbagai fasilitas penunjang pembelajaran di persekolahan yang masih menunjukkan nuansa diskriminatif.
Melahirkan gagasan-gagasan baru, tentang perlunya ketersediaan laboratorium beruoa ruanga seperti IPA untuk Jurusan IPS yang selama ini venderung hanya dipahami hanya terdapat dalam aktifitas kemasyarakatan dan ketatanegaraan saja.
Merangsang lahirnya gagasan tentang pentingnya suksesi ekstra kurikuler yang berbasis hobi atau ketertarikan pada kajian Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sudah menjadi rahasia umum, ternyata tidak semua siswa melanjutkan studi di perguruan tinggi sesuai dengan jurusan pad asaat di sekolah menengah yang dilaluinya.
Berkat pembekalan Filsafat Ilmu itulah, maka kami Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi yang memilih jalur kerja yang relevan dengan ijazah kami, tetap konsisten berpendapat bahwa cabang ilmu lengetahuan apapun bersifat universal dan memiliki tingkat kesulitan yang sama, jika ingin menghasilkan produk ilmiah yang berkualitas.
Walaupun, pada kenyataannya masih saja ada sebagian Sarjana, bahkan setingkat Doktor di Indonesia yang menganggap Sains itu hanya meliputi Mata Pelajaran IPA dan sebagian IPS saja.

Bersambung




Perubahan Kurikulum :
Ajang Proyek dan Ajang Kegenitan Ilmiah
oleh : Ade Fathurahman, S.Pd.
         Ketua Ranting PGRI SMANSA Kota Sukabumi
Jatuh bangun dunia pendidikan di Indonesia, salah satunya disemarakkan dengan trend perubahan kurikulum yang menelikung di proses pergantian rejim.
Pendidikan yang tidak pernah menjadi panglima dalam perumusan pembangunan bangsa selama ini hanya menjadi sub ordinant dari kebijakan beberapa rejim yang pernah memerintah di negeri ini.
Perubahan dari kurikulum sebelumnya menjadi KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) ternyata terkesan hanya menjadi suatu kebijakan yang bersifat reaktif.
Jawaban spontan dari gegar budaya terhadap trend keluhan dunia kerja yang mendapatkan limpahan out put pendidikan kita, yang katanya, tidak bisa bekerja dan masih harus belajar bekerja.
Selanjutnya, perubahan KBK menjadi KTSP (Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan)  pada periode berikutnya masih berakar dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat reaktif dan sporadis pula. yang lahir dari sepercik kesadaran akan pentingnya optimasilasi kompetensi peserta didik berkenaan dengan pemanfaatan potensi wilayah serta muatan lokal melalui proses kegiatan belajar mengajar di keseharian para peserta didik untuk pemenuhan perluasan penciptaan lapangan kerja.
Perubahan yang terakhir adalah lahirnya pengganti KTSP yang bernama KURTILAS (Kurikulum Dua Ribu Tiga Belas) dengan berbagai polemiknya. Perubahan ini pun. katanya, berdasarkan pada pertimbangan yang mendasar sebagai upaya  mengantisipasi krisis moral dan dekandensi kepribadian bangsa.  Maka setting dari pelaksanaan KURTILAS diharapkan dapat merangsang penggalian kembali nilai-nilai luhur bangsa dalam proses pembelajaran yang akan membekali siswa tidak hanya mengagungkan intelektual semata, melainkan mangusung juga kepentingan pembumian  budi pekerti bagi lulusan pendidikan kita yang akan meneruskan estapet kepemimpinan nasional dimasa yang akan datang.
Salah satu kesimpulan dari evaluasi terhadap perubahan-perubahan kurikulum dinegeri kita yang bersifat tendensius, diantaranya adalah "terciumnya indikasi adanya aroma tidak sedap, yakni aroma proyek didalamnya."
Aroma yang tidak sedap yang mengisyaratkan terjadinya perampokan dana masyarakat melalui RAPBN sektor pendidikan, khususnya sub sektor pendidikan dasar dan menengah.
Sementara beberapa praktisi senior pendidikan dasar dan menengah yang pernah terdampak beberapa kali oleh perubahan kurikulum banyak yang berpendapat bahwa perubahan kurikulum.di pendidikan dasar dan menengah di negeri kita ini terindikasi dijadikan arena kegenitan ilmiah para akademisi kita yang mengambil  peran di panggung pertentangan antar penganut faham filsafat pendidikan idealisme dengan model pendidikan continental (Eropa)  versus penganut faham pragmatisme dengan model anglo saxon (Amerika). Sebut saja, untuk tingkat kota, Bapak Harun Arrasyid, mantan guru senior PAI SMANSA Sukabumi, pada awal tahun 2000-an  pernah mengatakan hal yang senada dengan indikasi tersebut.  Maka, merujuk pada latar belakang pendidikannya, beliau bertanya-tanya : "mengapa kutikulum kita tidak pernah sekalipun berani mengadopsi kurikulum dari Dunia Islam yang pernah mengalami periode keemasannya yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Khaldun, Al Jabr. Avi Siena. Ave Rus dan yang lainnya ?"
Terlepas dari pendapat praktisi senior diatas, maka atas dasar kesadaran kebhinekaan, pada umumnya para guru. mediator pendidikan dasar dan  menengah saat ini, merindukan lahirnya kurikulum yang berakar dari Ke-Indonesiaan. Kurikulum yang membumi dan kontekstual,  yang pelaksanaannya dapat beradaptasi secara alamiah dengan kekinian dan kedisinian peserta didik kita.
Pertentangangan diantara dua aliran filsafat tersebut diatas, pada level mediator pendidikan dasar dan menegah tidaklah begitu dianggap penting.  Kedua aliran tersebut s, secara almiah sudah terdistorsi perkembangan zaman, sehingga menjadi satu paduan yang salah satu dengan lainnya dapat diambil substansi-substansi positifnya, sehingga berakulturasi menjadi aliran baru yang lebih Indonesiawiyah.
Akhirnya, kita berharap terbidaninya suatu kemandirian berpikir dari para akademisi kita untuk segera mengarahkan perubahan yang revolusioner menjadi revisi-revisi atau tambal sulam  yang tidak membuat gaduh wacana pendidikan kita. Kegaduhan yang berdampak pada posisi mediator pendidikan beserta peserta didiknya sebagai kelinci percobaan.
Harapanya, semoga wacana pendidikan kita hanya akan disibukkan dengan wacana yang lingkupnya lebih sempit dan lebih teeukur yang berkenaan dengan penajaman akurasi dari strategi, metode, model serta gaya mengajar yang digunakan pada pelaksanaan pendidikan kita. Penajaman akurasi yang harus bersinergi dengan tagihan-tagihan hasil belajar pada domain-domain Taksonomi Bloom yang dijadikan rujukan utama hingga kini dengan berbagai modifikasinya.
Wallaahu  A'lam.
Sukabumi 11 Mei 2015

Hantu OPSPEK dan MOS : Sebuah kepedulian terhadap kegelisahan para orang tua.


http://radarsukabumi.com/?p=153565
Oleh Ade Fathurahman
Wakasek Bidang Humas SMANSA Sukabumi

Tema tulisan yang urgen dan kontekstual dibidang pendidikan pada saat-saat ini adalah tema yang berkenaan dengan antisipasi proses pembodohan dalam proses pengenalan lingkungan pendidikan pada mahasiswa/i serta siswa/i baru.
Beberapa kali, jurus pembelaan pun dikemukakan oleh kalangan yang berkepentingan mempertahankan eksistensi kegiatan tersebut.
Menggelikan, ketika kita melegalkan sebuah kegiatan yang landasan historis, filosofis dan teoritisnya bermasalah.
Ketiga landasan itu harus digali, karena kesadaran kta bahwa kegiatan apapun yang dilakukan di lingkungan pendidikan harus mengindahkan acuan yang tertera pada tujuan pendidikan itu sendiri.
Tujuan pendidikan secara umum adalah memanusiakan manusia, dimana dalam lingkup ke-Indonesiaan pada hakikatnya bertujuan menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Konsep Manusia Indonesia Seutuhnya itulah yang kemudian dicirikan dengan berbagai indikator dalam Tujuan pendidikan Nasional kita yang bertujun : "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."
Jadi berhati-hatilah, jika kita memasukkan sebuah kegiatan ke persekolahan, apalagi yang berkenaan dengan pemahaman Wawasan Wiyata Mandala kepada peserta didik yang akan dijadikan siswa dalam proses berpikir, bersikap dan bertindaknya selama menuntut ilmu disatuan pendidikan yang ada.
Kegiatan semacam MOS dan OPSPEK adalah suatu kegiatan yang dikenal di lingkungan dnja pendidikan formal kita sebagai Wawasan Wiyata Mandala (silahkan baca di artikel lain)
Berkenaan dengan kegiatan MOS, OPSPEK dan yang sejenisnya, marilah kita kaji bersama relevansinya dengan Wawasan Wiyata Mandala yang sebenarnya.
Mari kita mulai dengan mencoba membaca kembali. referensi tentang landasan historis kegiatan tersebut untuk menjawab satu poin penting sebagai jawaban atas pertanyaan : "Sejak kapankah kegiatan sejenis Mapras, Malam inagurasi, OPSPEK, Pembaretan (SMK teknologi), MOPD, OKD, MOS dianggap begitu penting dilaksanakan di Institusi-institusi Pendidikan di Indonesia ?"  Jawaban alternatif semetara yang bisa saya sampaikan adalah "sejak zaman Penjajahan Belanda. Tepatnya Agresi I." Silahkan recheck referensi yang lain yang anda temukan.
Selanjutnya, landasan filosofis dari kegiatan yang sedang kita bahas pun mestinya kita gali yang relevansinya kita kaitkan dengan landasan historis tadi. Pertanyaan yang muncul berkenaan dengan hal tersebut : "Substansi apa yang ingin dikristalisasikan dan diharapkan dampaknya pada kegiatan Orientasi Peserta Didik dan sejenisnya pada saat pertama kali digulirkan pada sejarah lahirnya kegiatan tersebut  pada masa lalu ?"
Untuk sementara, jawaban alternatif saya tentang hal tersebut adalah tercapainya nuansa feodalistik yang bersinergi dengan budaya kerajaan di dunia pendidikan, yang tentu saja, bersebrangan dengan budaya berpikir, bersikap dan bertindak di lembaga keilmuan yang sangat egaliter. Banyak referensi berita dari tahun ketahun menampakkan nuansa otoritas senior atas juniornya yang kebablasan pada kegiatan tersebut.  Beberapa kasus yang menyebabkan korban lika-luka dan hilangnya nyawa terungkap dari tuntutan keluarga korban yang kebetulan sukses dipublikasi para awak media masa. Artinya, bukan tidak mungkin, masih banyak kasus lain yang belum dan tidak terungkap dalam jumlah yang tidak bisa kita prediksi secara gegabah.
Landasan lain yang harus kita pertimbangkan dalam permasalahan yang berkenaan dengan kegiatan yang sedang kita bahas adalah landasan teoritis.
Sebuah yang  jawaban harus kita didapatkan dari landasn teoritis adalah : "Landasan teoritis apakah gang menyebabkan kegiatan sejenis MOS dan OPSPEK dirasakan harus diadakan pada sat lahirnya kegiatan tersebut ?"
Jawaban sementara saya terhadap pertanyaan tersebut diatas adalah Landasan teori yang dipakai pada kegiatan tersebut adalah Teori Kemiliteran yang memandang perlu adanya pemahaman peserta didik tentang garis komando yang menuntut loyalitas tinggi dan penumbuhan jiwa corsa yang menuntut pengorbanan tak terbatas bagi kelompok.
Jadi persoalan yang terjadi adalah disharmoni antara tujuan pembentukan insan-insan sipil/ non-militer di lembaga-lembaga pendidikan non-militer yang mengadopsi teori kemiliteran yang memang duniab pendidikannya dilegalkan dan mengharuskan melakukan pembasisan terhadap calon tamtama, bintara serta perwiranya berdasarkan tuntutan pembelaan terhadap negara dikesehariannya.
Maka, setelah mengkaji tiga landasan tersebut, saya menyerahkan kepada anda semua praktisi pendidikan, pengamat serta kementerian dan kedinasan yang bersinggungan dengan pendidikan untuk memilih dengan bebas, apapun pilihan kita kedepan tentang jegiatan MOS, dan yang sejenis. Tentunya, dengan tetap memperhatikan kepentingan orientasi itu perlu, karena Wawasan Wiyata Mandala.adalah keharusan bagi siswa gang kedepannya disiapkan untuk hidup bermasyarakat.










SMANSA Juara Umum OSK/ OSN Tk. Kota 2015




Dengan penuh kerendahan hati, walau mendapat persaingan yang ketat dari peserta lain, akhirnya SMANSA meraih Juara Umum OSN Tk. Kota/ OSK.
Peraihan medali sebanyak 5 Emas dari Bidang Kimia, Kebumian, Astronomi, Ekonomi dan Geografi. 3 Perak dari Kimia, Ejonomi dan Astronomi. 3 Perunggu dari Matematika, Komputer dan Ekonomi serta Harapan 1 untuk Geografi, Kebumian, Komputer dan Biologi.
Selamat dan Sukses.
Tetap Rendah Hati, karena jalan menuju OSN masih panjang.
...





Learning to do

KURTILAS ===》Fisika jadi Mapel Peminatan di Program/ Jurusan IIS, IPS dulu.
Ini dia salah satu karya mereka dari Kelas 10 IIS 2. Dibawah asuhan Bpk. Drs. Moch. Effendi alias Pak Lely.
Pesawat helly dengan remote controll-nya. Salah satu cabang yang dipertandingkan di PON, Air Modelling.

Muhamad Anzja Chabbani Ista'la: Kunci Jawaban dan Pembahasan OSK Kebumian 2014

Muhamad Anzja Chabbani Ista'la: Kunci Jawaban dan Pembahasan OSK Kebumian 2014:        Jawaban OSK Kebumian 2014 berikut ini merupakan versi penulis, bila ingin bertanya atau berdiskusi dapat langsung menuliskannya pad...

Hikmah khitan bagi semua manusia yang melaksanakannya

Chlamydia is the most common sexually transmitted infection, affecting between three and four million men and women in the United States annually. Caused by the bacterium Chlamydia trachomatis, in men chlamydia can produce a discharge from the penis, pain during urination, and swelling in the testes; in women the infection may cause a yellowish vaginal discharge or vaginal bleeding. But in most cases there are no symptoms in infected women and they may unknowingly spread the disease. The infection can be successfully treated with oral antibiotics.
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Belajar Sepanjang Hayat

Thalabul 'ilmi fariidlatun ...... (Al Hadist) Minal mahdi ilal lahdi  ======> Life long Learning (UNESCO) 
Enrollment has similarly increased in adult education programs, which are usually defined as part-time study not directed toward a degree. Adult education programs vary substantially. Millions of adults enroll in such programs for job-related reasons, often because companies provide incentives for employees to upgrade skills through training. Many adults also attend school to pursue personal interests and hobbies. A growing number of older and relatively affluent people has created a new market for travel, reading, and other kinds of self development. Many institutions of higher education have developed part-time, evening, and summer programs to tap the nontraditional adult market more aggressively.

Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

AVICENNA (IBNU SINA)

Avicenna (Arabic, Abu Ali al-Husayn ibn Abd Allah ibn Sina) (980-1037), Iranian Islamic philosopher and physician, born near Bukhara (now in Uzbekistan). The son of a government official, Avicenna studied medicine and philosophy in Bukhara. At the age of 18 he was rewarded for his medical abilities with the post of court physician to the Samanid ruler of Bukhara. He remained in this position until the fall of the Samanid Empire in 999. After that he traveled and lectured on astronomy and logic at Jurjan, near the Caspian Sea. He spent the last 14 years of his life as scientific adviser and physician to the ruler of Eşfahān (Isfahan).

Regarded by Muslims as one of the greatest Islamic philosophers, Avicenna is an important figure in the fields of medicine and philosophy. His work The Canon of Medicine was long preeminent in the Middle East and in Europe as a textbook. It is significant as a systematic classification and summary of medical and pharmaceutical knowledge up to and including Avicenna's time. The first Latin translation of the work was made in the 12th century, the Hebrew version appeared in 1491, and the Arabic text in 1593, the second text ever printed in Arabic.

Avicenna's best-known philosophical work is Kitab ash-Shifa (Book of Healing), a collection of treatises on Aristotelian logic, metaphysics, psychology, the natural sciences, and other subjects. Avicenna's own philosophy was based on a combination of Aristotelianism and Neoplatonism. Contrary to orthodox Islamic thought, Avicenna denied personal immortality, God's interest in individuals, and the creation of the world in time. Because of his views, Avicenna became the main target of an attack on such philosophy by the Islamic philosopher al-Ghazali. Nevertheless, Avicenna's philosophy remained influential throughout the Middle Ages.
Although the major writings on Arab music appeared after the spread of Islam in the beginning of the 7th century, the music tradition had already begun. Before the spread of Islam, Arab music incorporated music traditions of the Sassanid dynasty (224-651) in Persia and the early Byzantine empire (4th century to 6th century) and of sung poetry from the Arabian Peninsula. Arabic-speaking scholars also studied the treatises of ancient Greek philosophers on music. Music theorists of the 10th century and 11th century, such as al-Farabi and Avicenna, produced their own theories of music based on what they had learned from the Greeks and on the music of their own times. Greek works translated by the Arab scholars were later studied by European scientists and philosophers.

Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

AL GEBRA (AL JAbr)

The word algebra comes from the Arabic al-jabr, meaning restoration. During the 9th century Islamic mathematicians systemized algebra, which they called the science of restoration and balancing. Algebraic techniques, however, have been employed to solve simple equations for thousands of years.
Ancient civilizations wrote out algebraic expressions using only occasional abbreviations. These longhand notations were cumbersome. The exponent x6, for example, required notation equivalent to x · x · x · x · x · x. By medieval times Islamic mathematicians were able to talk about arbitrarily high powers of the unknown variable x, and work out the basic algebra of polynomials (although they did not yet use modern symbolism). This included the ability to multiply, divide, and find square roots of polynomials as well as knowledge of the binomial theorem, which describes how to raise a binomial to an arbitrarily high power. Persian mathematician, astronomer, and poet Omar Khayyam showed how to express roots of cubic equations using line segments obtained by intersecting conic sections, but he could not find a formula for the roots. A Latin translation of al-Khwārizmī's algebra text appeared in the 12th century. In the early 13th century, the great Italian mathematician Leonardo Fibonacci achieved a close approximation to the solution of the specific cubic equation x3 + 2x2 + cx = d. Because Fibonacci had traveled in Islamic lands, he probably used an Arabic method of successive approximations to reach his solution.
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Mengenal Tokoh : ALCHEMY

Alchemy, ancient art practiced especially in the Middle Ages, devoted chiefly to discovering a substance that would transmute the more common metals into gold or silver and to finding a means of indefinitely prolonging human life. Although its purposes and techniques were dubious and often illusory, alchemy was in many ways the predecessor of modern science, especially the science of chemistry.
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Keterangan Gambar :
Alchemy Workshop
This caricature illustrates an alchemist’s workshop of the 17th century, poking fun at the quest for a “philosopher’s stone” by which ordinary metals could be turned into gold. Here, the alchemists eagerly watch an experiment while working bellows to work up the fire. Although drawings like this one reveal a certain amount of disdain for the art, alchemy played an important role in the development of science. Transmuting metals became possible in the 20th century by bombarding them with neutrons.Encarta EncyclopediaJ. L. Charmet/Science Source/Photo Researchers, Inc.
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Landasan Histori Sistem Angka yang Mendunia Saat ini.

The system of number symbols created by the Romans had the merit of expressing all numbers from 1 to 1,000,000 with a total of seven symbols: I for 1, V for 5, X for 10, L for 50, C for 100, D for 500, and M for 1000. Roman numerals are read from left to right. The symbols representing the largest quantities are placed at the left; immediately to the right of those are the symbols representing the next largest quantities, and so on. The symbols are usually added together. For example, LX = 60, and MMCIII = 2103. When a numeral is smaller than the numeral to the right, however, the numeral on the left should be subtracted from the numeral on the right. For instance, XIV = 14 and IX = 9. represents 1,000,000—a small bar placed over the numeral multiplies the numeral by 1000. Thus, theoretically, it is possible, by using an infinite number of bars, to express the numbers from 1 to infinity. In practice, however, one bar is usually used; two are rarely used, and more than two are almost never used. Roman numerals are still used today, more than 2000 years after their introduction. The Roman system's one drawback, however, is that it is not suitable for rapid written calculations.
The common system of number notation in use in most parts of the world today is the Arabic system. This system was first developed by the Hindus and was in use in India in the 3rd century bc. At that time the numerals 1, 4, and 6 were written in substantially the same form used today.

Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Relevansi Alquran dan Penciptaan Malaikat

Scientists have defined the speed of light in a vacuum to be exactly 299,792,458 meters per second (about 186,000 miles per second).
A vacuum can also be described as a region of space where the pressure is less than the normal atmospheric pressure of 760 mm (29.9 in) of mercury.
Earth Facts and Figures : Equatorial radius 6,378 km ; Equatorial inclination 23.5° ; Mass 5.97×1024 kg ; Average density 5.5 g/cm3 ; Rotational period 0.997 days ; Orbital period 1 year ; Average distance from the Sun 149.6 million km ; Moons 1
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Para fisikawan sering menggunakan kecepatan rata-rata cahaya adalah 300.000 km/ detik.
Para malaikat yang terbuat dari cahaya, sedikitnya mampu mengelililingi bumi di katulistiwa (keliling bumi terpanjang) sebanyak 7,5 kali dalam satu detik. Diketahui jarak rata-rat keliling bumi di khatulistiwa adalah 40.000 km/ detik. Maka wajarlah jika ribuan malaikat pembantu Rakib dan Atid mampu mencatat segala amal perbuatan manusia,
Mengingatkan saya pada Film Manusi Super Tahun 80-an, Flash Gordon, dengan logo halilintar di dadanya. Dia mampu membereskan ruangan perpustakaan yang berantakan dalam waktu yang sangat singkat.
wallaahu 'alam

Relevansi antara Hadist dengan Science (Adaptive Immune/ Kekebalan adaptif) Mengkaji Hikmah dibalik Perintah dalam beberapa Hadist.

There are two types of immunity: innate and adaptive.
"Adaptive immune responses are actually reactions of the immune system to structures on the surface of the invading organism called antigens.
Antigen, any substance that evokes the production of an antibody when introduced into the body of an animal. Antigens can enter the body through the respiratory tract, digestive tract, skin, or blood vessels. The most common antigens are proteins such as those found in bacteria and viruses. See also Allergy."
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Dalam beberapa hadist terdapat perintah-perintah penggunaan anggota badan bagian kiri atau kanan kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan, diantaranya masuk-keluar WC (kaki kiri - kaki kanan), keluar masuk rumah (kaki kiri - kaki kanan) beristinja (maaf, cebok) tangan kiri, memakai dan melepas pakaian (kanan - kiri), makan dan minum (selalu tangan kanan), menutup mulut ketika menguap atau bersin (selalu tangan kiri), meludah (kesebelah kiri) dan perintah -perintah sejenis lainnya.
Sepertinya hadis-hadis ini secara implisit menjelaskan tentang kekebalan adaptif.
Jika, pada sebuah hadist menjelaskan bahwa pada bagian kiri sayap lalat itu mengandung racun dan sebelah kanan sayapnya mengandung penawarnya, mak kesimpulannya adalah : "hewan dalam keadaan mormal tidak akan pernah melanggar sunattullah"
Jika ingin sehat, maka pergunakanlah bagian-bagian tertentu dari anggota badan kita (kanan atau kiri) secara rutin untuk kegiatan tertentu agar tidak terkena virus atau gejala allergy.

Mengkaji Proses “6 Masa” dalam Al Quran (Konklusi dari suatu Diskusi Remaja Masjid)



Ayat- ayat/ Ke-Mahaan ALLAH SWT. terbagi kedalam dua jenis, yang bersifat Kauliyah (Quraniyah)  dan Kauliyah. Sikap kita terhadap keduanya harus berbeda, dimana Fenomena alam semesta (sunatullah) membimbing kita untuk mengembangkan keingin tahuan kita tentang rahasia alam melalui pendekatan saintis. Sebuah fenomena dengan pengkajian terus-menurus (sifat ilmiah akumulatif) akan memberikan khazanah perkembangan berpikir manusia yang memberikan pesan bahwa tidak ada yang sia-sia berbagai bentuk penelitian dan teori yang dilakukan para cendekia, walau pada masa selanjutnya dikatakan gugur atau disempurnakan oleh hasil penelitian yang dianggap lebih up date atau lebih memuaskan sesuai zamannya.
Dibawah ini beberapa cuplikan Al Quran yang berkenaan denaan dengan Ayat-ayat Kauliyah (Firman Allah SWT. dalam Alquran) yang menurut Bapak Tomas Djamaluddin, seorang peneliti di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Diskusi ini bertemakan tentang  :"Kajian Ayat Quraniyah (Kauliyah) dan Kauniyah tentang Penciptaan Alam Semsta."
Bagian Pertama dari kumpulan ayat dibawah ini mencakup ayat-ayat yang berhibungan dengan Penciptaan Alam Semesta sedang Bagian keduanya adalah pelengkap, dimana pemateri menukil beberapa ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan Proses Kejadian Bumi kita.
Semoga Bermanfaat.
 QS 79 (An-Naziat)
Masa I: (27) Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya,
Masa II:  (28) Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Masa III: (29) dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.
Masa IV: (30) Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
Masa V: (31) Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Masa VI: (32). Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (33) (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
QS 41 (Fushshilat)
 (9) Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa (III – IV) dan kamu adakan sekutu-sekutu  bagiNya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam". (10) Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa (III – VI). (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (11) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". (12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa (I – II). Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Sumber : Diskusi CERIA Remaja Masjid An Nuur Sukabumi, Maret 2008 
                Pemateri DR. Tomas Djamaluddin, Peneliti LAPAN 
Keterangan : Beberapa bisa dilihat di buku-buku yang tampilan cover-nya ditampilkan diatas, berturut-turut nama penerbitnya ; Penerbit Khazanah, Grup Percikan Iman dan  (Buku anak-remaja) Penerbit Shofiemedia, Grup Percikan Iman (berdasar keterangan dari Pemateri)

    Definition List

    Translate this page from Indonesian to the following language!

    English French German Spain Italian Dutch

    Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

    Widget edited by Anang

    Text Widget

    Thank's alot for your attention.
    Insya Allah, you will get some experience by another person in this blog.
    ALLAH bless you.

    My Simple Inspiration.

    Some time, I think that Iwould like to improve my job, exactly as ageography teacher in The senior High Scool by many methodes.
    Very difficult, so much, to realitate that, because I need many concern to realitate about that.